Article Detail

Sekolah Katholik dan Modernisasi

KEUNGGULAN SEKOLAH KATHOLIK DALAM KONTEKS HISTORIS KULTURAL

“Sekolah katholik mutunya bagus itu jaman dulu, sekarang tidak begitu lagi, banyak sekolah yang lebih bagus dari sekolah-sekolah katholik”. Benar atau tidak pandangan ini, faktanya memang banyak sekolah katholik yang mulai kekurangan murid, bahkan ada juga sekolah katholik yang harus tutup karena tidak mendapat murid.

Apa yang sebenarnya tengah terjadi, benarkah ada penurunan mutu sekolah-sekolah katholik? Mengapa dulu sekolah katholik mutunya bagus tapi sekarang tidak lagi? Tulisan kecil  ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menempatkan keunggulan sekolah katholik dalam konteks historis dan kultural. Konteks penting karena sekolah katholik tidak berada di ruang hampa, tapi ia mengada di tengah masyarakat yang terus berubah.

The First of Excellence

Sejarah sekolah katholik di Indonesia adalah bagian dari sejarah misi gereja yang muncul dan mulai berkembang pada era kolonial. Dalam konteks budaya era kolonial adalah era masuknya peradaban Barat di Indonesia. Pendidikan modern yang dibawa dan dikembangkan oleh para misionaris dengan sendirinya adalah bagian dari fase awal proses modernisasi yang dialami bangsa Indonesia.

Menjadi bagian dari fase awal proses modernisasi tentulah sebuah keberuntungan  karena dengan begitu sekolah katholik lantas saja menjadi bagian “the first of excellence”. Bersama dengan sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda dalam proyek politik Ethis, sekolah-sekolah Katholik turut menjadi pelopor system pendidikan modern di Indonesia yang mengajarkan sikap, alam pikiran dan ketrampilan masyarakat modern.

Sebagai pelopor system pendidikan modern maka sungguh tak relevan kita bicara tentang keunggulan sekolah katholik pada era ini. Keunggulan itu dengan sendirinya hadir laksana sebuah takdir sejarah. Para misionaris yang mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah katholik adalah anak-anak jaman yang terlahir dari rahim kebudayaan modern di Eropa yang  tumbuh sejak abad ke 14 (renaissance, aufklarung).

Para misionaris itu adalah pewaris dan penerus kebudayaan modern yang telah tumbuh selama 5 abad di Eropa. Sementara masyarakat Indonesia pada masa itu masih dikuasai oleh alam pikiran relogiomagis, pramodern, masyarakat kita belum memasuki jaman renaissance atau jaman terang budi. Dalam proses modernisasi masyarakat Indonesia pada masa itu tertinggal 5 abad lamanya dibanding masyarakat Eropa. Dalam konteks inilah keunggulan sekolah katholik pada masa kolonial dengan mudah dapat dijelaskan.

Para misionaris dan guru-guru yang datang dari Eropa merupakan model asli dan paling muthakir tentang sikap , alam pikiran dan ketrampilan modern yang berkembang waktu itu. Apa yang mereka peroleh melalui pendidikannya di negerinya itulah yang mereka bawa, mereka kenalkan dan mereka ajarkan kepada murid-muridnya.

Bagi murid-muridnya mereka adalah sumber primer kebudayaan modern itu sendiri. Banyak sekolah katholik memiliki kisah-kisah bagaimana hebatnya para pendiri sekolah dan para guru generasi pertama ini, hebat dalam sikap, hebat dalam ethos kerja, hebat dalam kedalaman keahlian  dan keluasan wawasan, tentu saja karena mereka contoh asli orang modern itu sendiri di tengah-tengah masyarakat yang masih terbelakang.

Manusia Renaissance

Ketika sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah katholik kemudian tumbuh dan berkembang maka kebutuhan akan guru menjadi sangat tinggi dan muncullah usaha-usaha  pendirian sekolah-sekolah guru oleh pemerintah kolonial maupun misi gereja.  Dari sekolah-sekolah guru inilah kemudian tumbuh generasi guru pribumi awal. Dalam konteks historis mereka adalah bagian dari manusia baru Indonesia, manusia renaissance Indonesia, mereka bersentuhan dengan sikap dan alam pikiran Barat melalui pendidikan.

Berbeda dengan para guru generasi pertama yang lahir dan  tumbuh dalam budaya masyarakat modern yang telah matang di Eropa, para guru generasi kedua ini adalah manusia yang lahir dan tumbuh dalam masyrakat pramodern dan mengalami transisi menuju manusia modern. Meski mereka masih memilki kesempatan menyerap sikap dan alam pikiran dari para guru generasi pertama, mereka tak bisa sepenuhnya serupa dengan mereka. Mereka adalah pribadi yang terbelah sebagian dirinya pramodern dan sebagian lainnya modern.

Meski menjadi pribadi yang terbelah para guru generasi kedua ini tetap kelompok masyarakat yang paling maju pada jamanya karena sebagian besar masyarakat tidak terdidik dan dikuasai oleh alam pikiran pramodern. Sekolah katholik dengan demikian masih memiliki keunggulan karena guru generasi kedua yang dimilikinya tetap berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakatnya. Tak heran   status sosial mereka masih sangat tinggi dan masyarakat masih menghargai pandangan atau pemikirannya.

Penerus Tradisi

Seudah kemerdekaan keunggulan sekolah katholik masih terus berlanjut. Kehidupan politik yang kacau pada masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin tak memberi peluang bagi pemerintah untuk menyediakan pendidikan berkualitas secara luas bagi masyarakat. Dalam kondisi ini sekolah katholik menjadi oase bagi banyak orang yang menginginkan pendidikan bermutu.

Pada periode ini masih banyak dijumpai para misionaris dari Eropa memimpin sekolah-sekolah katholik, namun biasanya guru-gurunya sudah sepenuhnya guru pribumi. Secara umum situasi masyarakat hampir belum berubah sebagian besar belum terdidik.

Transisi kepemimpinan nasional di akhir dasawarsa 60an menghasilkan prahara politik dan bencana kemanusiaan yang hebat. Dalam situasi memprihatinkan ini sejarah gereja Indonesia justru mencatat pertumbuhan yang luar biasa. Gereja, organisasi katholik dan sekolah-sekolah katholik menjadi orientasi politik identitas agar orang tak digolongkan sebagai anggota maupun simpatisan partai komunis.

Kemunculan pemimpin baru mengakhiri jaman politik hiruk pikuk yang tidak efektif, muncullah Orde Baru orde yang menghela pembangunan sebagai ideology baru. Masa ini sekolah-sekolah pemerintah dibangun secara massif dan untuk itu guru-guru dicetak dengan cepat, mutu pendidikan belumlah menjadi prioritas karena pemerataan menjadi tujuan utama.

Tak mengherankan bahwa pada masa ini masyarakat masih memandang sekolah-sekolah katholik sebagai sekolah bermutu dibandingkan dengan sekolah-sekolah pemerintah. Tentu saja karena sekolah katholik memiliki system pendidikan yang sudah mapan yang dibangun dari pengalaman sejarah yang lama. Sementara sekolah-sekolah pemerintah dihadapkan pada banyak keterbatasan baik guru yang berkualitas, sarana prasarana maupun soal manajemen sekolah.

Kesadaran Historis

Dari pemaparan di atas dapat kita petik tiga simpulan. Pertama ; keunggulan sekolah katholik jaman dulu tidak berada di ruang kosong, sekolah katholik berada di moment penting perjalanan budaya bangsa ini, yaitu awal modernisasi. Sekolah katholik unggul karena posisi dan perannya sebagai corong pembawa jaman baru, corong pembawa sikap, alam pikiran dan ketrampilan baru.

Kedua; sekolah katholik juga unggul karena memiliki guru-guru generasi pertama yang adalah model asli dari sikap, alam pikiran dan ketrampilan baru itu sendiri, serta guru-guru generasi kedua yang merupakan kelompok orang-orang yang paling terdidik dalam masyarakatnya pada masa itu.

Ketiga; keunggulan sekolah katholik pada masa sesudah kemerdekaan hingga periode awal Orde Baru disebabkan karena masih rendahnya mutu sekolah-sekolah pemerintah, sekolah katholik unggul karena memiliki warisan system dan tradisi dari periode-periode sebelumnya.

Tiga simpulan di atas seharusnya dapat menjadi kesadaran historis sekolah-sekolah katholik di jaman sekarang. Kesadaran historis ini dapat membantu kita memahami dengan jelas kondisi kita di masa lalu, juga dapat membantu kita memahami kondisi kita di masa sekarang.

Tantangan Hari Ini

Memang kondisi jaman sudah amat berbeda, namun jika kita ingin menemukan kembali keunggulan sekolah katholik di jaman sekarang, maka posisi dan peran budaya sekolah katholik di jaman dulu dapat kita jadikan sebagai rujukan.

Sanggupkah sekolah-sekolah katholik jaman sekarang menjadi pembaharu jaman sekaligus menjadi model pembaharuan itu sendiri?  Pertanyaan yang sulit dijawab, lebih-lebih jika sekolah katholik tak memiliki kesadaran dan pemahaman yang jelas tentang sikap, alam pikiran dan ketrampilan baru apa yang akan ia berikan.

Penyelenggara sekolah katholik harus memiliki kecermatan dalam  membaca hakekat persoalan  hari ini, serta memiliki  ketajaman visi dalam membaca arah kemajuan masyarakat di masa depan. Hanya dengan inilah sekolah katholik mampu merumuskan jaman baru yang hendak ia tawarkan.

Bila itu tak dapat dilakukan maka sekolah-sekolah katholik hanya akan menjadi sekolah biasa-biasa saja dan makin lama akan makin ditinggalkan orang, karena memang tidak mampu memberikan sumbangan yang diperlukan untuk kemajuan masyarakat dan dunia di masa depan.

(Erjhe Sulistyo).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment