Article Detail
Sisi Lain dari Mesin Pencari
Setiap mesin pencari memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing dan di antara sejumlah mesin pencari yang tersedia, konon Google disebut-sebut sebagai mesin pencari yang dianggap paling canggih dan banyak digemari oleh para peselancar, dikarenakan kemampuannya untuk membantu kita mencarikan tempat-tempat secara lebih detail, meski mungkin tidak selamanya dapat menunjukkan hasilnya secara tepat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh sang peselancar.
Dibalik kecanggihan mesin pencari dalam menunjukkan alamat-alamat yang dibutuhkan ini ternyata sempat menimbulkan kegelisahan tersendiri. Contoh kasus, misalkan seorang guru biologi di SMP dan SMA memberikan tugas kepada para siswanya untuk menggali informasi tentang “lalat†di internet. Namun, ketika para siswa melaksanakan pencarian informasi di internet, dengan menggunakan kata kunci “lalat†pada mesin pencari, boleh jadi bukannya para siswa memperoleh informasi tentang seluk beluk lalat yang sebenarnya, tetapi malah mereka bisa terperosok pada tempat “lalat†yang berbeda, yang justru bisa membahayakan dan merusak mentalnya. Di sinilah, tampaknya, moralitas, kearifan dan pemahaman dari para pengguna jasa mesin pencari sangat diperlukan dalam memilah dan memilih informasi yang berguna bagi dirinya. Para siswa dan anak-anak muda kita, selain perlu dibelajarkan bagaimana menggali informasi di internet yang jumlahnya bisa mencapai trilyunan byte, penting juga mereka dibelajarkan dan dibimbing bagaimana mereka seharusnya melakukan pilihan-pilihan yang terbaik bagi dirinya dalam berinternet.
Selain dibutuhkan oleh para peselancar, mesin pencari juga dimanfaatkan oleh para pemilik website atau blogger untuk mempromosikan situs atau blog-nya. Berbagai cara yang dilakukan para pemilik website atau blogger untuk mensiasati agar setiap tulisan atau halaman dalam situsnya dapat diindeks dan ditempatkan pada urutan teratas dalam setiap mesin pencari, terutama di Google dan di beberapa mesin pencari terkenal lainnya. Mereka yang sangat paham tentang seluk beluk IT dan perilaku dari setiap mesin pencari, mungkin bisa mengotak-atiknya sedemikian rupa (menggunakan teknik SEO, misalnya), sehingga setiap tulisannya dapat diindeks dan ditempatkan pada halaman muka (teratas) dalam mesin pencari. Bahkan, ada diantaranya yang sengaja mengeluarkan sejumlah biaya agar situs atau blog-nya dapat ditempatkan di urutan teratas dalam mesin pencari. Semakin berada pada urutan teratas dalam mesin pencarian, biasanya akan semakin tinggi pula traffic yang menuju ke arah situs dan blog yang bersangkutan dan dengan sendirinya pula, maksud dan tujuan dari si pembuat website atau blog pun akan semakin efektif, baik tujuan yang bersifat komersial maupun non-komersial. Sementara orang awam seperti saya, cenderung berjalan apa adanya. Artinya, kalau lagi mujur, mungkin tulisan atau situs yang dibuat bisa berada pada halaman teratas dalam mesin pencari, tetapi bisa juga berada pada halaman paling buncit atau malah sama sekali tidak dilirik oleh sang mesin pencari.
Terlepas dari kecanggihan yang dimiliki
setiap mesin pencari beserta manfaatnya, yang namanya mesin tetap saja
mesin, dia hanya bisa bekerja secara mekanistik sesuai aturan dan
kriteria yang ditetapkan oleh perancangnya. Mereka tidak bisa
berimprovisasi di luar ketentuan baku yang telah ditetapkan, dan jika
hal itu dilakukannya pasti sang mesin pencari itu atau mungkin komputer
kita sedang mengalami error.
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa Google merupakan salah satu
mesin pencari yang banyak digunakan orang, termasuk di Indonesia.
Andaikan saja, Google ini seorang manusia, mungkin dia akan
terheran-heran dan pusing melihat para pengguna jasa layanan Google di
Indonesia, sebab konon berdasarkan data statistik yang dimilikinya, para
pengguna Google dari Indonesia banyak yang minta diantarkan ke
tempat-tempat yang berbau mesum, dengan menggunakan kata-kata kunci (key
words) yang sejenis itu. Karena memang dia statusnya hanya sebagai
mesin yang dirancang harus patuh, maka dia pun tetap mengantarkannya,
meski mungkin dengan rasa dongkol.
-
there are no comments yet